*****TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN-KOMENTAR-JEMPOL-DAN-FOLLOW ANDA DI ARFAN BLOG™ MENEBAR ILMU MERAIH AMAL*****

Senin, 31 Desember 2012

Tata Tertib Keluarga (2)

Ketentuan Rumah Tangga
  • Kegiatan Ibadah.
  1. Harus memelihara shalat wajib di awal wajib dengan berjamaah. Anggota keluarga yang laki-laki diupayakan shalat berjamaah di Masjid.
  2. Setelah shalat Maghrib dan Subuh harus tilawah.
  3. Siusahakan menjalankan puasa sunnah Senin dan Kamis.
  4. Dibiasakan menjalankan shalat malam (Qiyamul-lail) terutama untuk keluarga yang telah dewasa.
  • Kegiatan Belajar-Mengajar.
  1. Suasana belajar-mengajar harus selalu hidup di dalam rumah.
  2. Yang lebih tinggi tingkat pendidikannya harus membantu kepada yang lebih rendah.
  3. Harus memeriksa dan saling mengingatkan tentang tugas-tugas sekolah masing-masing.
  • Kegiatan Makan dan Minum.
  1. Setiap anggota keluarga dipersilahkan makan dan minum secukupnya dan tidak berlebih-lebihan dan memperhatikan adab-adab makan.
  2. Ketika makan bersama tidak boleh saling berebut dan ketika makan sendirian harus memperhatikan saudara-saudaranya apakah sudah makan atau belum.
  3. Jika ada tamu, sarus mendahulukan tamu.
  4. Selesai makan, peralatan makan harus dirapikan.
  • Adab Menerima Tamu.
  1. Setiap tamu yang datang harus dikenali identitasnya.
  2. Tamu yang tidak dikenal identitasnya tidak diperkanankan masuk ke dalam rumah.
  3. Setiap tamu harus diperlakukan dengan sopan da penuh penghormatan.
  4. Menerima tamu dengan pakaian yang bersih dan rapi.

Tata Tertib Keluarga (1)

Pembaca yang Budiman!
Kali ini saya akan berbagi tulisan tentang "Tata Tertib Keluarga", saya terinspirasi mebagikan tulisan ini setelah membaca sebuah buku yang berjudul "10 Bersaudara Bintang Al-Quran". Harapan saya Semoga kita, terutama yang sudah berkeluarga bisa menerapkan tata tertib ini.

Selamat Membaca!

Dalam rangka menumbuhkan dan mengembangkan hubungan keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah, seluruh anggota keluarga wajib mempehartikan asas-asas hubungan antar-keluarga dan mentaati tata tertib keluarga, yaitu

Asas-Asas Hubungan Antarkeluarga
  • Ikhlas beramal.
  • Memelihara kerjasama, tolong-menolong dan menghindari konflik.
  • Menghormati orang yang lebih tua dan menyayangi orang yang lebih muda.
  • Rendah hati.
  • Musyawarah.
  • Keteladanan.
  • Kemandirian.
  • Keteraturan.
  • Terus-menerus.
  • Mendahulukan yang lebih penting.
  • Ketertiban.
  • Hemat dan suka menabung.
  • Mengambil pelajaran dari masa lampau, berkarya hari ini untuk bekal di masa depan.
Pembaca yang Setia!

Inilah Asas-Asas Hubungan Antarkeluarga, Insya Allah di hari yang lain saya akan posting tentang "Tata Tertib Keluarga", akan tetapi dengan subjudul yang beda, Terima Kasih telah meluangkan waktu untuk membaca Artikel Ini.

Rabu, 26 Desember 2012

Fatwa | Orang yang Membaca Al-Quran Tanpa Tajwid

Seorang Imam di salah satu Masjid di daerah Riyadh bertanya kepada Syaikh Abdullah Ibn Baz rahimahullah, bahwa dia adalah seorang Imam yang masih lemah dalam tajwid dan ketika ia membaca Al-Quran banyak yang salah. Dia telah menghafal 3 juz dan beberapa ayat di surat-surat yang terpencar, sedangkan dia sangat khawatir atas tanggung jawab yang ia pikul. Dan dia meminta saran apakah dia terus menjadi Imam ataukah dia mengundurkan diri.

Maka Syaikh Menjawab : Anda harus berusaha menghafal ayat-ayat yang mudah dan memperbaiki bacaannya dan saya beri anda kabar gembira berupa kebaikan dan pertolongan dari Allah 'azza wa jalla, bila niat anda baik dan anda mengerahkan seluruh kemampuan anda untuk itu, karena Allah 'azza wa jalla berfirman:

(( وَمَنْ يَتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لّهُ مَخْرَجاً ))

"Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar". (Ath-Thalaq :2)

Dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Orang yang membaca Al-Quran dan mahir, dia bersama para Malaikat yang mulia lagi baik, sedangkan orang yang membaca Al-Quran sambil terbata-bata dan mengalami kesulitan maka dia mendapatkan dua pahala". (HR. Bukhari-Muslim)

Syaikh berkata : Kami tidak menyarankan ada untuk mengundurkan diri, namun kami mewasiatkan agar anda terus bersungguh-sungguh, sabar, tabah sampai anda berhasil dalam membaca Al-Quran dengan tajwid yang baik dan menghafal seluruhnya atau ayat-ayat yang mudah.

Semoga Allah 'azza wa jalla memberi anda taufik dan kemudahan.

Kisah | Hati Seekor Tikus



Assalamu'alaykum. Alhamdulillah bisa posting tulisan lagi, setelah beberapa hari saya nggak bisa posting. Bagaimana Kabar Anda, Semoga Anda dalam keadaan sehat wal 'aafiat.

Pembaca yang setia!

Untuk hari ini, Rabu 26 Desember 2012 saya akan berbagi kepada Anda sebuah tulisan, tentang "hati seekor tikus". Harapan saya ketika selesai membaca kisah ini, kita bisa memetik hikmah dari apa yang ada dalam kisah ini,,

Selamat membaca!

"Hati Seekor Tikus"

Suatu hari hiduplah seekor tikus, tikus tersebut merasa hidupnya sangat tertekan karena takut pada kucing. Ia lalu menemui seorang penyihir sakti untuk meminta tolong agar penyihir merubahnya menjadi seekor kucing. Penyihir memenuhi keinginannya dan mengubah si tikus menjadi seekor kucing.

Namun setelah menjadi kucing, kini ia begitu ketakutan pada anjing. Kembali ia menemui penyihir sakti yang kemudian mengubahnya menjadi seekor anjing.

Tak lama setelah menjadi anjing, sekarang ia merasa ketakutan pada singa.

Sekali lagi penyihir sakti memenuhi keinginannya dan mengubahnya menjadi seekor singa.

Apa yang terjadi? Kini ia sangat ketakutan pada pemburu. Ia mendatangi lagi si penyihir sakti meminta agar diubah menjadi pemburu. Kali ini si penyihir sakti menolak keinginan itu sambil berkata,

"Selama kau masih berhati tikus, tak peduli bagaimana pun bentukmu, kau tetaplah seekor tikus yang pengecut"

Pembaca yang Budiman!

Bagaimana Perasaan dan Pendapat Anda setelah membaca Kisah ini. Mungkin ini hanyalah kisah fiktif akan tetapi bisa saja ini menjadi cermin bagi diri kita....

Jumat, 21 Desember 2012

Adab Berteman dan Bersahabat (1)


Segala puji hanya milik Allah subhanahu wa ta'alaa, shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi-Nya Muhammad shallallahu alaihi wa sallam , juga kepada keluarga dan para sahabat beliau radhiyallahu 'anhum serta pengikut setianya hingga hari pembalasan.

Pembaca yang budiman!
Berikut ini saya akan berbagi sebuah tulisan dengan judul "Adab Berteman dan Bersahabat", yang ditulis oleh "Abdul Majid Muhammad Ahmad", harapan saya adalah agar pembaca memahami adab-adab ini dan bisa menerapkannya di dalam berteman dan bersahabat.

Pembaca yang setia!
Sesungguhnya persahabatan memiliki adab-adab yang sedikit sekalai orang yang menjaganya. Oleh karena itulah banyak kita dapati rasa cinta berubah menjadi permusuhan, persahabatan menjadi kebencian dan dendam. Seandainya dari dua orang yang bersahabat masing masih memegang adab-adab persahabatan, tentunya tidak akan terjadi perpecahan diantara mereka, dan setan pun tidak akan mendaptkan jalan untuk memecah belah keduanya.

Pembaca yang budiman!
Diantara adab persahabatan yang wajib dijaga adalah :
  1. Hendaknya persahabatan itu terjadi karena Allah subhanahu wa ta'alaa
  2. Seorang sahabat hendaknya memiliki Akhlaq dan konsisten dengan Agamanya. Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda, yang Artinya : "Seorang itu berada di atas agama sahabatnya, maka hendaklah salah seorang diantara kalian memperhatiksn siapa yang menjadi sahabatnya". (HR. Ahmad, Abu Dawud dan dihasankan oleh Al-Albani)
  3. Seorang sahabat hendaknya memiliki akal yang bagus.
  4. Seorang sahabat adalah orang yang adil, bukan fasiq, orang yang mengikuti sunnah dan bukan orang yang mengikuti bid'ah.
  5. Menutup aib sahabatnya dan tidak menyebarkannya.
  6. Menasehatinya dengan lemah lembut serta penuh kasih sayang, dan tidak berkata-kata kasar kepadanya.
  7. Sabar dalam memberikan nasehat, dan tidak putus asa dalam memperbaikinya.
  8. Sabar atas gangguan sahabatnya
  9. Hendaknya menjadi penolong bagi sahabat dalam keadaan apapun.
  10. Menziarahinya karena Allah subhanahu wa ta'alaa, bukan karena mashlahat duniawi.
  11. Menanyakannya jika dia tidak ada, dan mencari keluarganya jika safar.
  12. Menjenguknya jika dia sakit, mengucapkan salam jika bertemu, memenuhi undangannya jika dia mengundang, menasehatinya jika ia meminta nasehat, mengucapkan yarhamukallah jika dia bersin, dan mengikuti jenazahnya jika dia meninggal.
  13. Menyebarkan kebaikannya dan menyebutkan keutamaannya.
  14. Menyukai kebaikan baginya, sebagaimana ia suka kebaikan untuk dirinya sendiri.
  15. Mengajari perkara agama yang tidak ia ketahui, serta memberi petunjuk kepada sesuatu yang di dalamnya terdapat mashlahat agama dan dunia.
  16. Membelanya serta menolak ghibah jka dia dibicarakan pada suatu majelis.
  17. Menolongnya, baik dalam keadaan berbuat zalim maupun terzalimi. Menolong dalam keadaan zalim artinya mencegah dari kezaliman, serta melarang berbuat zalim.
  18. Tidak bakhil kepadanya jika dia membutuhkan pertolongan. Sahabat sejati adalah sahabat ketika dalam keadaan kesulitan.
  19. Memenuhi kebutuhannya, dalam bersegera memenuhi apa yang mashlahat baginya, dan ridha dengan sedikit kebaikannya.
  20. Lebih mengutamakannya atas dirinya sendiri, dan mendahulukannya daripada orang lain.
Pembaca yang setia!
Itulah diantara Adab Berteman dan Bersahabat, dan insya Allah saya akan lanjutkan tulisan ini di Lain waktu...Terima Kasih telah membaca Artikel ini...

Bersambung..........

Kamis, 20 Desember 2012

Fatwa | Tidak Patut Meninggalkan Membaca Al-Quran


Pertanyaan :

Seorang telah belajar membaca Al-Quran, akan tetapi sudah lewat satu tahun dia tidak membacanya lagi. Apa hukum syari'at terhadap meninggalkannya itu?

Jawaban : 

Segala puji bagi Allah subhanahu wa ta'alaa semata, shalawat dan salam semoga tetap tercurah kepada Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam beserta keluarga dan sahabatnya, wa ba'du:

Tidak pantas (tidak patut) hal itu terjadi, dan kewajiban ahli ilmu yang berada disekitarnya menasehati dia dan menjelaskan keutamaan membacanya, mentadabburinya dan mengambil pelajaran darinya. Mudah-mudahan dia menerima nasehat itu dan mau membacanya lagi.

Kewajiban Bagimu Adalah Membaca Al-Quran

Pertanyaan :
Sesungguhnya saya sering membaca Al-Quran Al-Karim, namun tidak bagus (dalam menerapkan) hukum-hukum (tajwidnya), sering keliru dalam membaca. Apakah saya berdosa dengan melakukan perbuatan itu?

Jawaban :
Merupakan suatu kewajiban atas setiap Muslim mempelajari cara tilawah (membaca) Al-Quran sampai dia menguasai dan membacanya sesuai dengan yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan sesuai dengan apa yang diturunkan oleh Allah subhanahu wa ta'alaa kepada Rasul-Nya, dia membacanya sesuai dengan kemampuan, bila memungkinkan membacanya dengan tenang dan diulang-ulang sehingga betul-betul benar, maka dia mendapatkan dua pahala, sebagaimana yang dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sesuai dengan sabdanya :

(( الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرآنَ وَيُتَعْتِعُ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ ))

"Orang yang membaca Al-Quran dan dia terbata-bata di dalamnya serta dia mengalami kesulitan, dia itu mendapat dua pahala".

Maka anda wahai saudaraku, bersabar dan tenanglah, ulang-ulanglah per kata beberapa kali sampai anda mampu mengucapkannya sesuai dengan apa yang semestinya, meskipun dengan mengalami kesulitan, karena pahalanya sangat besar. Janganlah anda mencoba untuk tergesa-gesa dan melantunkan Al-Quran dengan tidak peduli apakah salah atau benar, hal seperti ini termasuk menghina firman Allah subhanahu wa ta'alaa dan kita mengetahui bahwa ini adalah firman Allah subhanahu wa ta'alaa. Allah subhanahu wa ta'alaa berbicara dengannya sebagaimana kita membaca huruf-huruf dan harakat ini dan Jibril 'alaihis salaam menerimanya dari Allah subhanahu wa ta'alaa kemudian Jibril 'alaihis salam menyampaikannya (melalui wahyu) ke dalam hati Nabi shallallahu alaihi wa sallam seperti apa yang diterima dari Allah subhanahu wa ta'alaa.
Sebagaimana Allah subhanahu wa ta'alaa berfirman :

وَإِنَّهُ لَتَنزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ O نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ O عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنذِرِينَ O بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُّبِينٍO

"dan sesungguhnya Al-Qur'an ini diturunkan oleh Rabb semesta Alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang diantara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas". (Asy-Syu'araa : 192-195)

Selasa, 18 Desember 2012

Abbas bin Abdul Muthalib radhiyallahu 'anhu

Abbas bin Abdul Muththalib radhiyallahu 'anhu

Ia adalah paman Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan salah seorang yang paling akrab di hatinya dan yang paling dicintainya. Karena itu, beliau shallallahu 'alaihi wa sallam senantiasa berkata menegaskan, "Abbas adalah saudara kandung ayahku. Barangsiapa yang menyakiti Abbas sama dengan menyakitiku."

Di zaman Jahiliyah, Abbas bin Abdul Muththalib radhiyallahu 'anhu mengurus kemakmuran Masjidil Haram dan melayani minuman para jamaah haji. Seperti halnya beliau akrab di hati Rasulullah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pun dekat sekali di hatinya. Beliau pernah menjadi pembantu dan penasihat utamanya dalam bai'at al-Aqabah menghadapi kaum Anshar dari Madinah. Menurut sejarah, beliau dilahirkan tiga tahun sebelum kedatangan Pasukan Gajah yang hendak menghancurkan Baitullah di Mekkah. Ibunya, Natilah binti Khabbab bin Kulaib, adalah seorang wanita Arab pertama yang mengenakan kelambu sutra pada Baitullah al-Haram.

Pada waktu beliau masih anak-anak, beliau pernah hilang. Sang ibu lalu bernazar, kalau puteranya itu ditemukan, ia akan mengenakan kelambu sutra pada Baitullah. Tak lama antaranya, beliau ditemukan, maka ibunyapunn menepati nazarnya itu

Istrinya terkenal dengan panggilan Ummul Fadhal (ibu Si Fadhal) karena anak sulungnya bemama al-Fadhal. Wajahnya tampan. Ia duduk dibelakang Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ketika beliau menunaikan haji wada'-nya. Beliau meninggal dunia di Syam karena bencana penyakit amuas. Anak-anaknya yang lain sebagai berikut : Abdullah, seorang ahli agama yang mendapat doa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, meninggal di Thaif. Qutsam, wajahnya mirip benar dengan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Ia pergi berjihad ke negeri Khurasan dan meninggal dunia di Samarkand. Ma'bad, mati syahid di Afrika. Abdullah (bukan Abdullah yang pertama), orangnya baik, kaya,dan murah hati meninggal dunia di Madinah. Puterinya, Ummu Habibah, tidak banyak dibicarakan oleh sejarah.

Para ahli sejarah berbeda keterangan tentang Islamnya Abbas. Ada yang mengatakan, sesudah penaklukkan Khaibar. Ada yang mengatakan, lama sebelum Perang Badar. Katanya, ia memberitakan kegiatan kaum Musyrikin kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam di Madinah, dan kaum Muslimin yang ada di Mekkah banyak mendapat dukungan dari beliau. Kabamya, ia pemah menyatakan keinginannya untuk hijrah ke Madinah, tapi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menyatakan, "Kau lebih baik tinggal di Mekah ".

Keterangan kedua ini dikuatkan oleh keterangan Abu Rafi', pembantu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, "Pada waktu itu, ketika aku masih kanak-kanak, aku rnenjadi pembantu di rumah Abbas bin Abdul Muththalib radhiyallahu 'anhu. Ternyata, pada waktu itu, Islam sudah masuk ke dalam rumah tangganya. baik Abbas maupun Ummul Fadhal, keduanya sudah masuk Islam. Akan tetapi, Abbas takut kaumnya mengetahui dan terpecah-belah, lalu ia menyembunyikan keislamannya."

Ia selalu menemani Rasulullahshallallahu 'alaihi wa sallam di Ka'bah. Ka'ab bin Malik mengutarakan, "Kami (saya dan al-Barra' bin Ma'rur) mencari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Kami tidak tahu dan tidak mengenal Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sebelumnya. Kami bertemu dengan seorang penduduk kota Mekkah. Kami tanyakan di mana kami bisa menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Ia balik bertanya, 'Apakah kalian berdua mengenalnya?' Kami menjawab, 'Tidak!'. Ia lalu bertanya, 'Kalian mengenal Abbas bin Abdul Muththalib, pamannya?. Kami menjawab, 'Ya!' Memang kami sudah mengenalnya karena ia sering datang ke negeri kami membawa dagangan. Orang tadi lalu berkata, 'Kalau kalian masuk ke Masjidil Haram, orang yang duduk di sebelah Abbas itulah orang yang kalian cari!".

Kemudian, kami masuk ke Masjidil Haram. Ternyata, kami menemukan Abbas duduk di sana dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam duduk di sebelahnya".

Abbas radhiallahu 'anhu mempunyai peran penting yang tidak bisa diabaikan dalam baiat al-Aqabah. Ia orang pertama yang berpidato dalam majelis itu. Ia berkata

"Wahai kaum Khazraj, (pada masa itu, suku al-Aus dan al-Khazraj dipanggil dengan al-Khazraj saja) kalian seperti yang saya ketahui telah mengundang datang Muhammad. Ketahuilah bahwa Muhammad itu orang yang paling mulia di tengah-tengah familinya. Ia dibela oleh orang orang yang sepaham dan orang-orang yang tidak sepaham dengan pikirannya demi memelihara nama baik keluarga. Muhammad sudah menolak tawaran orang lain selain kalian. Kalau kalian memiliki kekuatan, ketabahan, dan pengertian tentang ilmu peperangan, mempunyai kekuatan menghadapi persekutuan dan permusuhan seluruh bangsa Arab, karena mereka akan menyerang kalian dengan satu busur dan satu anak panah, maka camkanlah baik-baik terlebih dahulu, rembukkanlah antara kalian dengan mufakat dan sepakat bulat dalam majelis ini karena sebaik-baik bicara itu ialah yang jujur."

Kata-kata itu menunjukkan pengetahuannya yang luas dan pemikiran yang cerdas tentang berbagai persoalan. Ia ingin mengenali hakikat kaum Anshar dan membangkitkan kesiapsiagaan mereka. Ia lalu berkata lagi, "Cobalah kalian ceritakan kepadaku bagaimana kalian berperang menghadapi musuh?".

Abdullah bin Amru bin Haram bangkit memberikan jawaban, "Percayalah bahwa kami adalah ahli perang. Kami memperoleh keahlian itu berkat kebiasaan dan latihan kami dan berkat warisan nenek moyang kami. Kami lepaskan anak panah kami sampai habis, lalu kami mainkan tombak kami sampai patah, kemudian kami menyerang dengan pedang, berperang tanding hingga tewas atau menewaskan musuh kami".

Cerahlah wajah Abbas mendengarkan keterangan mereka itu dan amanlah rasanya untuk menyerahkan keponakannya itu, seorang yang paling dekat di hatinya. Seperti ada yang ia lupakan, ia berkata lagi, "Kalian mengatakan ahli peperangan. Apakah kalian mempunyai baju besi?".

"Ya, lengkap," jawab mereka.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kemudian membaiat mereka dan Abbas mengambil tangan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam untuk mengukuhkan baiat itu.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berhijrah ke Yatsrib sedangkan Abbas tinggal di Mekah, mendengarkan berita Rasulullah dan kaum Muhajirin, dan mengirimkan berita-berita kaum Quraisy, hingga berkecamuknya Perang Badar. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, tahu bahwa Abbas dan keluarganya dipaksa keluar berperang oleh Quraisy sedangkan mereka tidak berdaya mengelak. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Aku tahu ada orang-orang dari Bani Hasyim dan lain-lain yang terpaksa keluar. Mereka tidak mempunyai kepentingan untuk memerangi kami. Siapa di antara kalian yang menjumpai mereka, orang-orang dari Bani Hasyim, janganlah dibunuh; siapa yang menjumpai Abbas bin AbduI Muththalib, paman Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, janganlah di bunuh karena ia keluar berperang karena terpaksa".

Keterangan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. itu tersebar luas di kalangan orang yang pergi ke Badar. Kaum mukminin menerima baik perintahnya itu. Kecuali Abu Hudzaifah bin Utbah bin Rabi'ah, yang berucap dengan lantang, "Kami membunuh bapak kami, anak-anak kami, saudara-saudara dan keluarga kami, lalu kami akan membiarkan beliau? Demi Allah, kalau aku menjumpainya, aku akan memancungnya dengan pedangku ini!"

Kata-katanya itu terdengar oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu beliau shallallahu 'alaihi wa sallam berkata kepada Umar ibnul Khaththab, "Ya Aba Hafsah, ada juga orang yang mau menghantam wajah paman Rasullullah dengan pedangnya!"

"Biarkanlah, ya Rasulullah, aku penggal leher Abu Hudzaifah itu dengan pedangku ini. Demi Allah, dia itu seorang munafik," ucap Umar.

Akan tetapi, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak membiarkan Umar bertindak membunuh kawan-kawanya yang bersalah. Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam membiarkan mereka bertobat dan menebus dosanya masing-amsing. Ternyata, Abu hudzaifah sangat menyesali kata-katanya itu dan senantiasa mengulang-ulang perkataanya, "Demi Allah, rasanya hatiku tidak aman atas kata-kata yang pernah aku ucapkan dahulu dan aku senantiasa dikejar-kejar rasa takut olehnya, sebelum Allah memberikan tebusan kepadaku dengan syahadah!" Ternyata, harapannya itu Allah penuhi, ia tewas sebagai syahid dalam Perang Yamamah.

Pada suatu hari, Abbas bin Abdul Muththalib radhiyallahu 'anhu pergi berhijarah ke Medinah bersama Naufal ibnul Harits. Ahli sejarah berbeda pendapat tentang tarikh hijrahnya, namun mereka sependapat bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah membemberikan sebidang tanah kepadanya berdekatan dengan tempat kediamannya.

Di Madinah terjadi pertengkaran antara seseorang dengan Abbas, yang berakar sejak zaman Jahiliyah, dimana orang itu memaki-maki ayah Abbas. Gangguan orang itu terhadap Abbas terjadi berualng-ulang sehingga menyakitkan hatinya, lalu ia ditamparnya. Kabilah orang itu tidak senang hati, mereka siap-siap untuk membalas. Mereka berkata, "Demi Allah, kami akan menamparnya seperti ia menampar saudara kami!"

Ancaman mereka itu terdengar oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu beliau shallallahu 'alaihi wa sallam mengumpulkan kaum Muslimin dan naik ke atas mimbar, seraya memanjatkan puja dan puji kepada Allah subhânahu wata'âla dan bersabda, "Wahai para hadirin, tahukah kalian, siapa orang yang paling mulia di sisi Allah subhânahu wata'âla?"

"Engkau, ya Rasulullah!" jawab hadirin.

"Tahukah kalian bahwa Abbas itu dariku dan aku darinya? Janganlah kalian mengumpat orang-orang yang sudah mati, jangan sampai menyakiti kita yang masih hidup."

Kabilah orang itu datang mengahadap Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam seraya berkata, "Ya Rasulullah, kami mohon perlindungan Allah dari kegusaranmu, maafkanlah dosa kami, ya Rasulullah."

Pernyataan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tersebut menguatkan keterangan beliau radhiallâhu 'anhu. tentang sabdanya, "Abbas adalah saudara kandung ayahku. Barangsiapa yang menyakitinya sama dengan menyakitiku."

Pada suatu hari, Abbas datang menghadap Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam. Dan bermohon dengan penuh harap, "Ya Rasulullah, apakah engkau tidak suka mengangkat aku menjadi pejabat pemerintahan?"

Berdasarkan pengalaman, ia seorang yang berpikiran cerdik, berpengetahuan luas, dan mengetahui liku-liku jiwa orang, namun Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam tidak ingin mengangkat pamannya menjadi kepala pemerintahan, ia tidak ingin pamannya dibebani tugas pemerintahan. Ia menjawab harapan pamannya itu dengan manis dan penuh pengertian, "Wahai paman Nabi, menyelamatkan sebuah jiwa lebih baik daripada menghitung-hitung jabatan pemerintahan."

Ternyata Abbas menerima dengan senang hati pendapat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, tetapi malah Ali bin Abi Thalib radhiallâhu 'anhu yang kurang puas. Ia lalu berkata kepada Abbas, "Kalau engkau ditolak menjadi pejabat pemerintahan, mintalah diangkat menjadi pejabat pemungut sedekah!"

Sekali lagi Abbas menghadap Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam untuk meminta seperti yang dianjurkan Ali bin Abi Thalib itu, lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepadanya ,"Wahai pamanku, tak mungkin aku mengangkatmu mengurusi cucian (kotoran) dosa orang."

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam seorang yang paling akrab dan paling kasih kepadanya, tidak mau mengangkatnya menjadi pejabat pemerintahan atau pengurus sedekah, bahkan ia tidak diberi kesempatan dan harapan mengurusi soal-soal yang bersifat duniawi, tetapi menekannya supaya lebih menekuni soal-soal ukhrawi.

Untuk yang ketiga kalinya, pamannya itu datang menghadapnya dan berharap dengan penuh kerendahan hati, "Aku ini pamanmu, usiaku sudah lanjut, dan ajalku sudah hampir. Ajarilah aku sesuatu yang kiranya berguna bagiku di sisi Allah!"

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, "Ya Abbas, engkau pamanku dan aku tidak berdaya sedikitpun dalam masalah yang berkenaan dengan Allah, tetapi mohonlah selalu kepada Rabbmu ampunan dan kesehatan!"

Sesudah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menunaikan risalah Allah subhânahu wata'âla dengan baik, manyampaikan agamaNya yang lengkap kepada para pewarisnya, maka ia kembali ke rahmatullah dengan tenang. Ternyata Abbas orang yang paling merasa kesepian atas kepergiannya itu.

Abbas hidup terhormat di bawah pemerintrahan Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq, kemudian menyusul pemerintahan Umar ibnul Khaththab radhiallâhu 'anhuma

Tiap kali Khalifah hendak ke masjid ia selalu harus melewati rumah Abbas. Di atas rumahnya itu terdapat sebuah pancuran air. Pada suatu hari, ketika Khalifah Umar pergi ke masjid dengan pakaian rapi hendak menghadiri shalat jamaah, tiba-tiba pancuran air itu menumpahkan airnya dan mengenai pakaian Umat. Ia kembali pulang untuk mengganti pakaian dan memerintahkan supaya pancuran itu dibuka. Sesudah beliau selesai shalat, datanglah Abbas seraya berkata, "Demi Allah, pancuran itu diletakkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam"

Khalifah Umar menjawab, "Aku mohon kepadamu supaya engkau memasang kembali pancuran itu di tempat yang diletakkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dengan menaiki pundakku."

Abbas menerima baik harapan Umar untuk memperbaiki kesalahannya itu. Abbas tidak marah, tidak mendendam di dalam hati, tetapi ia mengingatkan Umar bahwa yang meletakkan pancuran itu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Hati Umar yang terkenal keras dan kuat-kuat tiba-tiba bergetar ketakutan, bagaimana ia memerintahkan mencabut apa yang dipasang Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Ia rela menebus kesalahannya itu dengan menyuruh Abbas menaiki pundaknya untuk mengembalikan pancuran air itu ketempatnya semula. Setelah itu, ia memberikan ciuman cinta dan pengharagaan kepada paman Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam itu.

Masjid Nabawi di Madinah kian hari kian menjadi kecil karena bilangan kaum Muslimin dari hari ke hari makin bertambah dengan pesatnya. Khalifah Umar berpikir akan memperluasnya dengna membeli rumah-rumah yang ada di sekitar masjid itu. Semua bangunan yang ada disekitarnya sudah dibeli kecuali rumah Abbas bin Abdullah Muththalib. Apa mungkin ia menyumbangkan harganya kelak di Baitulmal ataukah ia akan menerima harga ganti ruginya?

Khalifah Umar datang menemuinya seraya berkata, "Ya Abal Fadhal, engkau lihat, masjid sudah sempit sekali karena banyaknya orang shalat di dalamnya. Aku sudah memerintahkan untuk membeli tanah dan bangunan yang ada disekitarnya untuk memperbesar bangunan masjid, kecuali rumahmu dan kamar-kamar Ummahatul Mu'minin yang belum. Kalau kamar-akmar Ummuhatul Mu'minin rasanya tidak mungkin kami membeli dan membongkarnya, tapi rumahmu jual-lah kepada kami berapa pun yang engkau kehendaki dari Baitulmal supaya bisa meluaskan bangunan masjid."
Abbas menjawab, "Aku tidak mau."
Umar berkata; "Pilihlah satu diantara tiga: engkau menjual berapa pun yang engkau kehendaki dari Baitulmal, atau aku akan menggantinya dengan bangunan lain yang akan aku bangunkan untukmu dari Baitulmal di daerah manapun di Madinah yang engkau kehendaki, atau engkau berikan sebagai sedekah kepada Muslimin untuk meluaskan masjid mereka."

Abbas berkeras, "Aku tidak mau terima semaunya."
Umar berharap, "Angkatlah seorang penengah antara kami berdua kalau engkau mau.'
Abbas menjawab, "Aku setuju mengangkat Ubai bin Ka'ab."

Keduanya pergi menemui Ubai bin Ka'ab, lalu kepadanya diceritakan segala sesuatunya dan dimintai pendapatnya.

Ubai berkata, "Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Allah subhânahu wata'âla pernah mewahyukan kepada Nabi Daud 'alaihis salam, 'Bangunlah untuk-Ku sebuah rumah tempat orang-orang menyebut nama-Ku di sana.' Nabi Daud lalu merencanakan pembangunannya di Baitul Maqdis. Dalam perencanaan itu mengenai rumah seorang Bani Israel. Nabi Daud menawarkan kepada orang itu untuk menjual rumahnya, tapi ia menolak. Tiba-tiba terpikir dalam benak Nabi Daud untuk mengambilnya dengan paksa. Allah subhânahu wata'âla lalu mewahyukan kepadanya, 'Hai Daud, aku menyuruhmu membangun untuk-Ku sebuah rumah tempat orang menyebut nama-Ku pemaksaan itu bukan watak-Ku. Karena itu, sebagai sanksinya, kau tidak usah membangunnya!' Nabi Daud menjawab, 'Ya Allah, aku lakukan pada anakku!' Allah berfirman lagi, 'Siapa anakmu?""

Khafilah Umar tidak bisa lagi menahan marahnya, lalu ia menyambar baju Ubai bin Ka'ab dan menggiringnya ke masjid seraya berkata, "Aku mengharapkan dukunganmu, malah kau menyudutkan aku. Kau harus membuktikan keteranganmu di hadapan kaum Muslimin!"

Ia membawanya ke tengah-tengah halaqah yang diselenggarakan sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di masjid Nabawi, dimana antara lain terdapat Abu Dzar radhiallâhu 'anhu.Umar lalu berkata kepada para hadirin, "Saya mengharap dengan nama Allah, adakah diantara kalian yang mendengarkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berbicara tentang Baitul Maqdis, ketika Allah memerintahkan Nabi Daud untuk mendirikan rumah-Nya tempat orang menyebut-nyebut namaNya?"

Abu Dzar radhiallâhu 'anhu menjawab' "Ya, saya mendengar!" Disambut oleh yang lain, "Ya, saya juga mendengar!" Dari sudut sana ada pula yang menyambung, "Saya juga mendengar!"

Khalifah Umar radhiallâhu 'anhu lalu berkata kepada Abbas radhiallâhu 'anhu, "pergilah! Aku tidak akan menuntutmu membongkar rumahmu."

Abbas radhiallâhu 'anhu berkata, "Kalau demikian sikapmu maka aku menyatakan bahwa rumahku kusedekahkan untuk kepentingan kaum Muslimin. Silahkan perluas masjid mereka. Akan tetapi, kalau kau akan mengambilnya dengan tekanan dan pemaksaan, aku tidak akan mengalah."

Memang Khalifah Umar radhiallâhu 'anhu bertindak setengah memaksa karena proyek itu menyangkut kepentingan kaum Muslimin dan dianggap tidak bertentangan dengan hukum Allah. Akan tetapi, apabila ada nash jelas maka tidak berlaku ijtihadnya. Ia harus tunduk dan menerima baik syariat Allah dan RasulNya. Sesudah Abbas melihat ketundukan Khalifah Umar kepada hukum dan perundang-undangan, ia tidak lagi mengandalkan kekuasaannya selaku kepala pemerintahan atau akan merampas haknya yang dijamin oleh undang-undang dan dilindungi oleh Islam, tetapi ia benar-benar berjuang demi kesehjahteraan kaum Muslimin, maka ia pun memutuskan untuk menyerahkan rumahnya itu sebagai hibah dan sedekah untuk meluaskan masjid kaum Muslimin.

Demikian tokoh-tokoh model "sekolah Rasulullah" dan "sekolah Al-Qur'anul Karim" radhiallahu 'anhum ajma'in. Mereka angkatan kaum Muslimin yang pertama, yang telah membawa panji Islam ke seluruh jagat raya ini, yang telah membangkitkan peradaban umat manusia, yang mengajar dan mendidik manusia maju dan mengenali peradaban antara agama kebenaran dan kebatilan.

Pada suatu hari dalam pemerintahan Khalifah Umar, terjadilah paceklik hebat dan kemarau ganas. Orang-orang berdatangan kepada Khalifah untuk mengadukan kesulitan dan kelaparan yang melanda daerahnya masing-masing. Umar menganjurkan kepada kaum Muslimin yang berkemampuan supaya mengulurkan tangan membantu saudara-saudaranya yang ditimpa kekurangan dan kelaparan itu. Kepada para penguasa di daerah diperintahkan supaya mengirimkan kelebihan daerahnya ke pusat. Ka'ab masuk menemui Khalifah Umar seraya mengutrarakan, "Ya Amirul Mukminin, biasanya Bani Israel kalau menghadapi bencana semacam ini, mereka meminta hujan dengan kelompok para Nabi mereka."

Umar berakta, "Ini dia paman Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan saudara kandung ayahnya. Lagi pula, ia pimpinan bani Hasyim."

Khalifah Umar pergi kepada Abbas dan menceritakan kesulitan besar yang dialami umat akibat kemarau panjang dan paceklik itu, kemudian ia naik mimbar bersama Abbas seraya berdoa, "Ya Allah, kami menghadapkan diri kepadaMu bersama dengan paman Nabi kami dan saudara kandung ayahnya, maka turunkanlah hujan-Mu dan janganlah kami sampai putus asa!"

Abbas lalu meneruskan, memulai doanya dengan puja dan puji kepada Allah subhânahu wata'âla, "Ya Allah, Engkau yang mempunyai awan dan Engkau pula yang mempunyai air. Sebarkanlah awan-Mu dan turunkanlah air-Mu kepada kami. Hidupkanlah semua tumbuh-tumbuhan dan suburkanlah semua air susu".

Ya Allah, Engkau tidak mungkin menurunkan bencana kecuali karena dosa dan Engkau tidak akan mengangkat bencana kecuali karena tobat. Kini, umat ini sudah menghadapkan dirinya kepada-Mu maka turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, kami memohon belas kasih-Mu atas nama diri kami dan keluarga kami. Ya Allah, kami memohon belas kasih-Mu atas nama makhluk-Mu yang tidak bicara, atas nama hewan ternak kami. Ya Allah, hujanilah kami dengan hujan keselamatan yang berdaya guna. Ya Allah, kami mengadukan semua bencana orang yang menderita kelaparan, telanjang, ketakutan, dan semua orang yang menderita kelemahan. Ya Allah selamatkan mereka dengan hujan-Mu sebelum mereka berputus asa dan celaka. Sesungguhnya, tidak akan berputus asa dengan rahmat karunia-Mu kecuali orang-orang yang kafir."

Ternyata doanya itu langsung diterima dan disambut Allah subhânahu wata'âla. Hujan lebat turun dan tumbuh-tumbuhan tumbuh dengan suburnya. Orang-orang bersyukur kepada Allah Subhânahu wata'âla dan mengucapkan selamat kepada Abbas, "Selamat kepadamu, wahai Saqil Haramain, yang mengurusi minuman orang di Mekah dan Madinah."

Abbas hidup terhormat, baik oleh kaum muslimin maupun oleh para Khulafaur Rasyidin. Kalau ia berjalan dan berpapasan dengan Umar atau Utsman yang sedang berkendaraan, keduanya turun dari kendaraannya, seraya berkata, "Paman Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam!"

Sudah menjadi sunnatullah, setiap permulaan ada penghabisannya, setiap perjalanan ada perhentiannya, demikian pula dengan Abbas radhiallâhu 'anhu, perjalanan hidupnya terhenti dan kembali ke rahmatullah menyusul keponakkannya Rasulullah shallallâhu 'alaihi wasallam dan rekan-rekannya yang lain, pada hari Jumat tanggal 12 Rajab 32 Hijrah, dalam usia 82 tahun, dan dikebumikan di al-Baqi' di Madinah, radhiallahu'anhu. 

Senin, 17 Desember 2012

Rahasia Bersin



Bersin adalah satu perkara yang penting dalam kehidupan manusia, akan tetapi manusia tidak mengetahui bahwa bersin adalah sebuah “kematian kecil”!

Manusia, takkala bersin dia mati sementara, hingga kemudian kembali untuk kehidupannya yang baru!
Ketika bersin, segala organ pada tubuh, baik pernafasan, pencernaan, dan saluran air kencing berhenti. Demikian juga jantung berhenti berdenyut takkala kita sedang bersin. Bersin adalah cara pertahanan diri yang genius dan penting untuk menghilangkan segala problematika saluran pernafasan, baik segala macam kotoran, atau dari segala macam benda asing yang masuk melalui lubang hidung. Dengan demikian, bersin merupakan penjaga yang terpercaya, yang dapat mencegah benda asing masuk dalam saluran udara di bawah tulang hidung.
Ketika benda asing menyentuh bulu-bulu hidung, baik serangga yang membahayakan atau yang lainnya, maka bulu-bulu hidung tersebut akan memberi peringatan (sinyal) dengan kecepatan yang sangat menakjubkan, yaitu dengan memerintahkan untuk membuat penghalang dengan sebuah penarikan nafas, kemudian diikuti pengeluaran nafas yang keras -yang kita sebut dengan bersin - melewati hidung untuk mengeluarkan bahya yang masuk. Demikian juga sekaligus mencegahnya meneruskan jalan melewati saluran pernafasan menuju paru-paru.

Pembaca yang Budiman
Sesungguhnya kecepatan bersin mencapai 100 km/jam. Dan jika kita bersin dengan keras, mungkin sekali kita dapat memcahkan satu dari tulang-tulang rusuk kita. Dan jika kita mencoba untuk menghentikannya untuk tidak keluar, maka dia akan menyebabkan keluarnya darah di dalam leher atau kepala hingga menyebabkan kematian. Dan jika kita biarkan kedua mata kita terbuka ketika bersin, bisa-bisa mata kita akan keluar dari rongganya.
Semenit atau kurang dari semenit setelahnya, kita akan merasa biasa saja -jika Allah berkehendak-, seakan tidak terjadi sesuatupun.

Para dokter klasik menganggap bersin sebagai sebuah cahaya kehidupan. Mereka mempunyai sebuah ukuran derajat kesehatan, bahwa manusia ketika tertimpa suatu penyakit yang bahaya maka dia tidak mempunyai kemampuan untuk bersin. Dan mereka menganggap bersinnya seseorang yang sakit adalah sebuah cahaya kehidupan. Mereka mempunyai sebuah ukuran derajat kesehatan, bahwa manusia tatkala tertimpa suatu penyakit yang bahaya maka dia tidak mempunyai kemampuan untuk bersin. Dan mereka menganggap bersinnya seseorang yang sakit adalah sebuah kabar gembira kebaikan yang akan terjadi padanya, dan sebuah harapan baik berupa jauhnya dia dari bahaya.

Pembaca yang Budiman
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah menyebutkan kepada kita tentang pentingnya bersin bagi tubuh kita, dengan membaca Alhamdulillah dan memerintahkan kepada orang yang mendengarkannya untuk ber-tasymith (membaca yarhamukallah yang artinya: Semoga Allah memberikan rahmat kepadamu). Lafadz-lafadz ini mewahyukan, bahwa disana ada bahaya yang datang kemudian datanglah bersin untuk mengusir –dengan izin Allah- musuh pengganggu dan menenangkannya hingga akhirnya sang empunya selamat, sehat wal afiat.
Demikian inilah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengajari kita bagaimana kita ber-tasymith terhadap orang yang bersin atau yang berarti mendoakannya dengan ucapan yarhamukallah.

Pembaca yang Budiman
Yang dimaksud disini adalah bersin yang biasa saja, adapun bersin sakit yang terjadi karena pilek atau salesma misalnya, maka orang yang tertimpa, tiap kali bersin membaca Alhamdulillah. Akan tetapi bagi yang mendengar hendaknya ber-tasymith pada yang pertama dan kedua saja. Dan setelah ini mendoakan baginya kesehatan dengan ucapan ‘Afakallah (semoga Allah menyehatkanmu).

Oleh karena itu kalimat Alhamdulillah adalah sebuah ungkapan terima kasih kepada Allah atas keberhasilan ini. Maka pujilah Rabbmu dan bersyukurlah kepada-Nya, wahai anak cucu Adam…

Subhanallah!

Sabtu, 15 Desember 2012

Ketika Muhammad Membuatku Menagis

KETIKA MUHAMMAD MEMBUATKU MENANGIS



Kisah nyata ini diceritakan oleh Seorang dokter dari Palestina, dia berkata: Sejak Sembilan tahun aku bekerja pada salah satu bagian Unit Gawat Darurat (UGD) di sebuah rumah sakit. Setiap hari aku menemui berbagai macam keadaan dari pasien yang berbeda. Aku memberi untuk pasien resep dan aku juga menasehati yang lain agar beristirahat. Aku letakkan pasien ketiga sebagai perhatian dan aku pindah ke pasien lain untuk perawatan intensif. Aku sering meminta kepada para pasien untuk melakukan test darah, air seni, dan tinja. Hal itu merupakan test rutin. Lalu kami memberikan kepada pasien sebuah botol kecil dari plastik yang sudah disterilkan untuk meletakkan sampel dari hasil test yang akan kami lakukan, setelah kami menulis nama pasien pada kertas yang ditempelkan pada botol tersebut.

Pada suatu hari, ada seorang bocah yang berusia 9 tahun datang ke bagian UGD, ia mengeluhkan rasa perih dalam perutnya. Setelah kami memeriksanya, kami meminta bocah tersebut untuk melakukan pemeriksaan air seni pada Laboratorium. Kami memberikan botol dan kami tanyakan namanya untuk kami tuliskan pada botol, dia bernama Muhammad. Kami tulis nama dan kami minta dia supaya memberikan sampelnya, bocah itu mengambil botol dan setelah beberapa saat bocah itu kembali, tetapi ia kembali dengan botol kosong. Lalu kami ingatkan dia mengenai pentingnya memberikan sampel air seni dalam botol untuk pemeriksaan, akan tetapi dia menolak untuk meletakkan sampel di dalam botol. Apakah kalian tahu mengapa anak tersebut menolak? Karena dia melihat pada botol itu ada tulisan nama Muhammad, maka dia menolak sebagai bentuk pengagungan terhadap nama Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu aku menangis terseduh-seduh dan aku merasa terkesima dengan kekerasan sang bocah hingga batasan ini. Akupun mendoakan kebaikan baginya, sungguh dia telah mengingatkan aku mengenai sebuah masalah yang aku tidak pernah memperhatikannya selama bertahun-tahun. Ini adalah kedudukan Nabi kita di mata anak-anak kita wahai orag yang kalian tidak mengetahui kedudukan Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kalian berbuat buruk kepadanya. Semoga Shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepada Keluarga dan Sahabat-sahabatnya.

Senin, 10 Desember 2012

Sejenak Merenung

Semakin Anda memahami lebih banyak tentang dunia di sekitar Anda, semakin bergairah dan penasaran terhadap kenyataan hidup dalam hidup Anda.
Gairah adalah salah satu elemen pokok yang meringankan upaya dan mengubah kegiatan-kegiatan yang biasa-biasa saja menjadi suatu pekerjaan yang dapat dinikmati.
Semakin besar “Mengapa” Anda akan semakin besar energi yang mendorong Anda untuk meraih sukses.
Mimpi tidak hanya membantu Anda berhadapan dengan kegagalan, tetapi mereka juga memotivasi Anda secara konstan. Mimpi masa kini adalah kenyataan hari esok, Anda bisa jika Anda berpikir bisa, selama akal mengatakan bisa. Batasan apakah sesuatu masuk akal atau tidak, kita lihat saja orang lain, jika orang lain telah melakukannya atau telah mencapai impiannya, maka impian tersebut adalah
masuk akal.

Menuliskan tujuan akan sangat membantu dalam menjaga alasan melakukan sesuatu.
Apakah kita bisa untuk mengemban misi kita? Insya Allah kita bisa, karena Allah Mahatahu, Allah tahu sampai dimana potensi dan kemampuan kita. Jika kita tidak merasa mampu berarti kita belum benar-benar mengoptimalkan potensi kita.
Jika target obsesi itu baik, maka memiliki obsesi bukan hanya baik, tetapi harus. Karena motivasi dari sebuah obsesi sangat kuat.
Untuk menjadi sukses, Anda harus memutuskan dengan tepat apa yang Anda inginkan, tuliskan dan kemudian buatlah.
Cinta terbesar dan cinta hakiki bagi orang yang beriman ialah cinta kepada Allah. Sehingga cinta kepada Allah-lah yang seharusnya menjadi motivator terbesar dan tidak terbatas.
Sukses yang sudah Anda alami di masa lalu akan membantu untuk memotivasi Anda di masa yang akan datang.

Jika Allah yang menjadi tujuan, kenapa harus dikalahkan oleh rintangan-rintangan yang kecil di hadapan Allah? Jika mencari nafkah merupakan ibadah, semakin kerja keras kita, insya Allah semakin besar pahala yang akan diberikan oleh Allah. Jika nafkah yang didapat merupakan bekal untuk beribadah, maka semakin banyak nafkah yang didapat, semakin banyak ibadah yang bisa dilakukan. Uang + Ahklaqul Karimah akan menjadi modal yang sangat berharga baik untuk Anda sendiri, maupun untuk kemajuan Umat Islam. Kejarlah keduanya.
Jika niat sudah terpancang karena Allah, tidak akan ada halangan yang bisa menghentikan seseorang melakukan sesuatu. Niat karena Allah ialah motivator yang utama dan seharusnya menjadi satu-satunya motivator kita.

Jangan sampai kita terlena untuk memenuhi kekayaan duniawi yang sifatnya hanya sementara saja, hingga kita lupa akan tugas kita yang sesungguhnya di dunia ini yaitu mengumpulkan perbekalan untuk menuju kampung akhirat yang kekal. Jadi perkayalah diri Anda baik dengan materi maupun dengan rohani, dan bagikan kekayaan tersebut kepada yang lebih membutuhkan.

Ketika satu pintu kebahagiaan tertutup, pintu yang lain dibukakan. Tetapi sering kali kita terpaku terlalu lama pada pintu yang tertutup sehingga tidak melihat pintu lain yang dibukakan bagi kita.
Dalam hidup,terkadang kita lebih banyak mendapatkan apa yang tidak kita inginkan. Dan ketika kita mendapatkan apa yang kita inginkan, akhirnya kita tahu bahwa yang kita inginkan terkadang tidak dapat membuat hidup kita menjadi lebih bahagia.
Bermimpilah tentang apa yang ingin kamu impikan, pergilah ke tempat-tempat kamu inginkan, Jadilah seperti yang kamu inginkan, karena kamu hanya memiliki satu kehidupan dan satu kesempatan untuk melakukan hal-hal yang ingin kamu lakukan.
Masa depan yang cerah berdasarkan pada masa lalu yang telah dilupakan
Kamu tidak dapat melangkah dengan baik dalam kehidupan kamu sampai kamu melupakan kegagalan kamu dan rasa sakit hati.

Waktu kamu lahir, kamu menangis dan orang-orang di sekelilingmu tersenyum.
Jalanilah hidupmu sehingga pada waktu kamu meninggal, kamu tersenyum dan orang-orang di sekelilingmu menangis.
Semoga kamu mendapat cukup kebahagiaan untuk membuat kamu bahagia, cukup
cobaan untuk membuat kamu kuat, cukup penderitaan untuk membuat kamu menjadi
manusia yang sesungguhnya, dan cukup harapan untuk membuat kamu positif terhadap kehidupan.

Yang memimpin wanita bukan akalnya, melainkan hatinya. Hari ini bila ia datang, jangan biarkan ia berlalu pergi. Esok kalau ia masih bertandang, jangan harap ia akan datang kembali.
Sesuatu yang baik, belum tentu benar.
Sesuatu yang benar, belum tentu baik.
Sesuatu yang bagus, belum tentu berharga.
Sesuatu yang berharga atau berguna, belum tentu bagus.

Agama menjadi sendi hidup, pengaruh menjadi penjaganya. Kalau tidak bersendi, runtuhlah hidup dan kalau tidak berpenjaga, binasalah hayat. Orang yang terhormat itu kehormatannya sendiri melarangnya berbuat jahat.
Jangan tertarik kepada seseorang karena parasnya, sebab keelokan paras dapat menyesatkan, Jangan pula tertarik kepada kekayaannya karena kekayaan dapat musnah. Tertariklah kepada seseorang yang dapat membuatmu tersenyum, karena hanya senyum yang dapat membuat hari-hari yang gelap menjadi cerah.

Sungguh benar bahwa kita tidak tahu apa yang kita miliki sampai kita kehilangannya,
tetapi sungguh benar pula bahwa kita tidak tahu apa yang belum pernah kita miliki sampai kita mendapatkannya.

Masa depan yang cerah selalu tergantung pada masa lalu yang dilupakan.
Kita tidak dapat meneruskan hidup dengan baik jika tidak dapat melupakan kegagalan dan sakit hati di masa lalu.
Tentang Waktu
Ambillah waktu untuk berfikir, itu adalah sumber kekuatan.
Ambillah waktu untuk bermain, itu adalah rahsaia dari masa muda yang abadi.
Ambillah waktu untuk berdoa, itu adalah sumber ketenangan.
Ambillah waktu untuk belajar, itu adalah sumber kebijaksanaan.
Ambillah waktu untuk mencintai dan dicintai, itu adalah hak istimewa yang diberikan Oleh Allah.
Ambillah waktu untuk bersahabat, itu adalah jalan menuju kebahagiaan.
Ambillah waktu untuk tertawa, itu adalah musik yang menggetarkan hati.
Ambillah waktu untuk memberi, itu adalah membuat hidup terasa bererti.
Ambillah waktu untuk bekerja, itu adalah nilai keberhasilan.
Ambillah waktu untuk beramal, itu adalah kunci menuju syurga.

Harta yang paling menguntungkan ialah SABAR. Teman yang paling akrab adalah AMAL. Pengawal peribadi yang paling waspada DIAM. Bahasa yang paling manis SENYUM. Dan ibadah yang paling indah tentunya KHUSYUK.

Wanita yang cantik tanpa pribadi yang mulia ,umpama kaca mata yang bersinar-sinar, tetapi tidak melihat apa-apa.
Jangan sekali-kali kita meremehkan sesuatu perbuatan baik walaupun hanya sekadar senyuman.
Anda bukan apa yang anda fikirkan tentang anda, tetapi apa yang anda fikirkan itulah anda
Hidup tak selamanya indah tapi yang indah itu tetap hidup dalam kenangan.
Hidup memerlukan pengorbananan. Pengorbanan memerlukan perjuangan. Perjuangan memerlukan ketabahan.

Sahabatku! Jangan Kau Tangisi Apa Yang Bukan Milikmu

Sahabatku ! Dalam perjalanan hidup ini seringkali kita merasa kecewa. Kecewa sekali. Sesuatu yang luput dari genggaman, keinginan yang tidak tercapai, kenyataan yang tidak sesuai harapan. Akhirnya angan ini lelah berandai-andai ria. Sungguh semua itu telah hadirkan nelangsa yang begitu menggelora dalam jiwa.

Dan sungguh sangat beruntung andai dalam saat-saat terguncangnya jiwa, masih ada setitik cahaya dalam kalbu untuk merenungi kebenaran. Masih ada kekuatan untuk melangkahkan kaki menuju majlis-majlis ilmu,  yang akan mengantarkan pada ketenteraman jiwa.

Sahabatku ! Hidup ini ibarat belantara. Tempat kita mengejar berbagai keinginan. Dan memang manusia diciptakan mempunyai kehendak, mempunyai keinginan. Tetapi tidak setiap yang kita inginkan bisa terbukti, tidak setiap yang kita mahu bisa tercapai. Dan tidak mudah menyadari bahwa apa yang bukan menjadi hak kita tak perlu kita tangisi. Banyak orang yang tidak sadar bahwa hidup ini tidak punya satu hukum: harus sukses, harus bahagia atau harus-harus yang lain.

Sahabatku ! Betapa banyak orang yang sukses tetapi lupa bahwa sejatinya itu semua pemberian Allah hingga membuatnya sombong dan bertindak sewenang-wenang. Begitu juga kegagalan sering tidak dihadapi dengan benar. Padahal dimensi tauhid dari kegagalan adalah tidak tercapainya apa yang memang bukan hak kita. Padahal hakekat kegagalan adalah tidak terengkuhnya apa yang memang bukan hak kita.

Sahabatku ! Apa yang memang menjadi jatah kita di dunia, entah itu rizki, jabatan atau kedudukan, pasti akan Allah sampaikan. Tetapi apa yang memang bukan milik kita, ia tidak akan kita bisa miliki. Meski ia nyaris menghampiri kita, meski kita mati-matian mengusahakannya.

"Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berdukacita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.." (al-Hadiid: 22-23)



Demikian juga bagi yang sedang galau terhadap jodoh. Kadang kita tak sadar mendikte Allah tentang jodoh kita, bukannya meminta yang terbaik dalam istikharah kita tetapi benar-benar mendikte Allah: "Pokoknya harus dia Ya Allah! Harus dia, karena aku sangat mencintainya. " Seakan kita jadi yang menentukan segalanya, kita meminta dengan paksa. Dan akhirnya kalau pun Allah memberikannya maka tak selalu itu yang terbaik. Bisa jadi Allah tak mengulurkannya tidak dengan kelembutan, tapi melemparkannya dengan marah karena niat kita yang terkotori.

Maka wahai jiwa yang sedang gundah, dengarkan ini dari Allah:
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagi kamu. Dan boleh jadi kamu mencintai sesuatu, padahal ia amat buruk bagi kamu. Allah Maha mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui." (al-Baqarah: 216)

Maka setelah ini wahai jiwa, jangan kau hanyut dalam nestapa jiwa berkepanjangan terhadap apa-apa yang luput darimu. Setelah ini harus benar-benar dipikirkan bahwa apa-apa yang kita rasa perlu di dunia ini harus benar-benar perlu, bila ada relevansinya dengan harapan kita akan bahagia di akhirat. Karena seorang Mu'min tidak hidup untuk dunia, tetapi menjadikan dunia untuk mencari hidup yang sesungguhnya: hidup di akhirat kelak.

Maka sudahlah, jangan kau tangisi apa yang bukan milikmu!
Walhamdulillahi robbil a'lamin...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...